My Blog List

Sunday, November 23, 2014

PERKEMBANGAN ANAK TUNALARAS



1.      Perkembangan Kognitif
Masalah gangguan emosi anak tunalaras dapat menyebabkan kehilangan minat dan konsentrasi belajar sehingga prestasinya rendah di sekolah. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini menjadi penyebab timbulnya gangguan tinkah laku. Pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan temannya tetapi jada saaatnya anak tersebut tidak mampu untuk menyamai temannya, sehingga menimbulkan masalah. Ketidakmampuan tersebut dapat menjadikan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan diri, sehingga anak akan terjerumus ke hal-hal yang negatif seperti, membolos, lari dari rumah, berkelahi, dsb. Selain itu anak dapat memperhitungkan sebab akibat suatu perbuatan dan mudah terpengerahi oleh hal-hal negatif.
Anak yang berintelegensi tinggi juga memiliki masalah delam penyesuaian diri dengan teman-temannya. Anak mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan kelompok anak yang lebih tua tetapi sejajar dalam kemampuan mentalnya, hal ini disebabkan ketidaksejajaran antara perkembangan intelegensi dengan kemampuan sosialnya. Masalah lain yang dihadapi  oleh anak yaitu sikap tidak mau kalah dengan orang lain. Anak tersebut selalu ingin menang sendiri dalam berbagai kegiatan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak tunalaras mempunyai perkembangan intelegensi yang tidak berbeda dengan dengan anak pada umumnya ada yang berintelegensi rendah, sedang, dan tinggi.
2.      Perkembangan Kepribadian
Para ahli mendefinisikan kepribadian sebagai suatu organisasi yang dinamis pada sestem psikofisis individu yang ikut menentukan cara yang unik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kepribadian dapat menyebabakan sesseorang berperilaku menyimpang, karena kepribadian akan mewarnai peranan dan kedudukan seseorang dalam berbagai kelompok dan mempengaruhi kesadarannya.
Sejak lahir setiap orang sudah dibekali dengan berbagai kebutuhan dasar yang menuntut pemenuhan kebutuhan dan setiap orang berusaha memenuhinya yang diwujudkan dalam besrvagai lingkungannya. Apabila usaha pemenuhan tidak sesuai dengan norma sosial, dapat terjadi konflik psikis. Dan apabila gagal, stabilitas emosinya akan terganggu kemudian mendoraong terjadinya perilaku menyimpang.
3.      Perkembangan Emosi
Terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras ciri-cirinya yaitu kehidupan emosi anak ang tidak stabil, kemampuan mengekspresikan emosi dan pengendalian diri yang kurang. Terganggunya kehidupan emosi ini merupakan akibat ketidakberhasila anak dalam melewati fase perkembagan. Penelitian para ahli menunjukkan bahwa kehidupan emosi pada awal perkembangan individu sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan selanjutnya.
Kematangan emosional anak ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, di mana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekspresikannya. Perkembangan emosi ini berlangsung terus menerus sesuai perkembangan usia, akan banyak pula pengalaman emosional yang diperoleh anak. Tetapi anak tunalaras tidak mampu belajar dengan baik dalam merasaka dan menghayati emosi yang mungkin dapat dirasakan, kehidupan emosinya bervariasi. Mereka juga kurang mampu mengendalikan emosi dan aka menimbulkan penyimpangan tingkah laku, misalnya mudah marah, mudah tersinggung, kurang mampu perasaan orang lain, dsb. Perasaan seperti ini akan mengganggu situasi belajar dan mengakibatkan prestasi belajar yang dicapainya tidak sesuai dengan potensi yang dimiliki, sehingga memerlukan pengajaran remedial. Fokus bantuan bagi mereka dala mengatasi kesulitan belajar. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh para pengelola pendidikan dalam usaha memunculkan motivasi belajara bagi anak tunalaras, yaitu :
a.       Pengaturan lingkungan belajar
b.      Mengadakan kerjasama dengan lembaga lain/ lembaga pendidikan umumnya
c.       Tempat layanan pendidikan
4.      Perkembangan Sosial
Sejak lahir manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Interaksi ini berkembang sesuai dengan pola atau tahapan-tahapan perkembangan. Lingkungan yang menyenangka akan mendorong tumbuhnya perasaan mempercayai sesuatu (trust) yang kemudian akan berkembang ke lingkungan yang masih luas. Sebaliknya lingkungan yang tidak memuaskan pengalaman psikologis yang kurang menyenangkan akan menimbulkan perasaan tidak mempercayai sesuatu (intrust). Anak tunalaras memiliki hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain, tetapi ada saatnya jmereka dapat menjalin hubungan yang erat dengan temannya dan membentuk suatu kelompok yang kompak.
Ketidakmampuan anak tunalaras dalam melalui interaksi sosialyang baik dengan lingkungannya desebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangakan. Pada waktu memasuki tahapan perkembangan baru anak akan dihadapkan pada tantangan yang timbul dari lingkungan agar egonya menyesuaikan diri. Oleh karena itu pada setiap pencapaian tahap perkembangan baru anak menghadapi krisis emosi. Apabila egonya mampu menghadapi krisis tersebut anak akan mengalami kematangan dan mampu menyesuaikan diri dengan baik. Emosi atau perasaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan hubungan antarindividu. Gangguan emosi akan diperlihatkan dalam hubungannya dengan orang lain dalam bentuk kecemasan, agresif, dan impulsif. Keadaan ini dapat terjadi dalam berbagai lingkungan, baik di rumah atau di sekolah. Jarak yang memisahkan hubungan anak dengan lingkungannya mula-mula bersifat objektif, akan tetapi kemudian menjadi bersifat subjektif. Hal ini tergantung kepada bagaimana sikap anak, penghayatan anak akan dirinya (self-concept), dan penghayatan ank terhadap lingkungan sosialnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tidak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Di antara bentuk-bentuk kelainan tingkah laku, anak yang cemas dan menarik diri memiliki ancaman yanag lebih besar terhadap dirinya daripada lingkungan sosialnya. Karena mereka yang menunjukkan tingkah laku yang mengganggu dan tidak terlalu menimbulkan masalah bagi orang lain sehingga kurang menarik perhatian.
Masalah yang dihadapi anak yang menarik diri ini adalah pengendalian dan kelenturan ego. Dalam dirinya tampak suatu keadaan tidak berdaya yang dipelajari (learned helplessness) yang dapat menimbulkan masalah serius bila ia mengalami kekecewaan, ia merasa bahwa kekecewaan adalah bagian dari dirinya. Anak dengan masalah ini mempunyai konsep yang dimikian rendah sehingga kegagalan dalam tugas sekolah atau kehidupan sosialnya hanya menunjukkan ketidakberdayaan di hadapan lingkungannya. Penampilan yang buruk dalam suatu situasi mungkin akan dilakukannya lebih buruk lagi hanya karena ia merasa pesimis dengan diri dan kemampuannya lebih buruk lagi lagi hanya karena ia merasa pesimis dengan diri dan kemampuannya. Perasaan dan sikap rendah diri nampak menonjol dalam penampilan mereka.

  Sumber : Dra. T. Sutjihati Somantri, M.Si, psi, 2006, Psikologi Anak Tunalara, Bandung : PT Refika Aditama

No comments: