My Blog List

Tuesday, November 18, 2014

Globalisasi Ekonomi Menurut Kenichi Ohmae

Globalisasi Ekonomi Menurut Kenichi Ohmae 
Melahirkan Pasar Bebas Tanpa Batas
Dalam era globalisasi ekonomi, para pelaku ekonomi, yaitu para pengusaha (saudagar), menjadi kekuatan yang daya jangkaunya melewati batas-batas negara, bahkan meminimalkan peran negara. Negara menjadi tidak berdaya, dikebiri perannya, bahkan hingga ditundukkan di bawah kekuatan para pengusaha. Tunduknya negara pada kekuatan ekonomi dunia yang tak terbatasi membuat negara kemudian tampil tidak lagi melindungi warganya, tetapi melindungi para pengusaha, yakni para pelaku ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC/multinational corporations). Akibatnya, warga atau masyarakat yang ada di bawah kekuasaan negara menjadi korban utamanya.
Jika melihat fenomena seperti itu, bisa jadi globalisasi merupakan kutukan bagi Negara atau masyarakat yang lemah atau tidak mempunyai sumber daya yang berdaya tawar tinggi. Negara saja tidak mampu mengatur kegiatan ekonomi, Negara saja tidak mampu menahan gempuran-gempuran keserakahan globalisasi, bagaimana dengan masyarakat lemah/kecil yang sama sekali tidak memiliki akses untuk bersaing dengan gurita-gurita raksasa.
Tunduknya negara berarti pesta-pora bagi para saudagar. Sektor-sektor ekonomi negara dikuasai MNC. Warga negara yang kemudian menjadi korban utama, karena sektor-sektor ekonomi yang seharusnya melibatkan mereka dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional.
Kenichi Ohmae mengatakan, globalisasi akan mengakibatkan hilangnya peran negara (the end of the nation state). Namun, nyatanya hingga detik ini negara di dunia masih tetap ada dan bertahan, tidak ada yang bubar gara-gara globalisasi. Posisi tawar negara sebenarnya masih kuat. Ini mestinya bisa digunakan sebagai senjata negosiasi negara melawan globalisasi yang membuat masyarakat menderita, tidak terlindungi.
Bagaimana caranya negara khususnya Negara dunia ketiga tetap berwibawa, berdaulat, dan kuat, tidak menjadi centeng kekuatan ekonomi multinasional, tetapi justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan masyarakatnya?
Menantang para pengusaha multinasional tidak harus dengan cara ekstrem dengan cara menutup atau mengisolasi diri, dan tidak mau menerima investor asing. Pemerintah juga tidak perlu terlalu terbuka hingga menjadi centeng bagi para pengusaha multinasional itu, yang berarti mengorbankan masyarakat. Pada intinya negara harus kuat jika ingin membendung efek negatif globalisasi bagi warga negara. Itu berarti negara harus tetap ada dan bertahan. Negara tidak boleh lenyap karena globalisasi.
      b.   Globalisasi Melahirkan Kehampaan (Nothing) menurut George Ritzer
            Teori-teori George Ritzer dalam buku terbarunya yang provokatif, Mengkonsumsi Kehampaan di Era Globalisasi atau Globalisasi Ketiadaan, bahwa “narasi besar” atau kisah masyarakat pada zaman ini, merupakan sebuah gerakan dari “sesuatu” menuju “ketiadaan”. Dengan mengandalkan namun melampaui tesis McDonaldisasinya yang termashyur, Ritzer berpendapat bahwa masyarakat-masyarakat di bumi ini terus bergerak dari “sesuatu”, yang didefenisikan sebagai sebuah bentuk sosial yang umumnya dipahami sebagai, dikontrol secara likal, dan kaya akan isinya yang khas. Ritzer memperlihatkan bahwa kita sedang bergerak menuju “ketiadaan”  yang dikontrol dan disusun secara terpusat dan relatif tanpa substansi yang khas. Dalam gerakan menuju globalisasi “ketiadaan” inilah implikasinya “sesuatu” menjadi hilang. Lebih dari itu, bahwa “sesuatu” merupakan sebuah kebiasaaan asli, sebuah toko lokal, sebuah tempat berkumpul yang akrab, atau interaksi yang personal.
                        Ketika transaksi-transaksi (hubungan sosial) dilakukan tanpa tatap muka langsung, juga merupakan gejala kehampaan. Masyarakat atau manusia sudah kehilangan substansinya sebagai makhluk sosial. Jadi, persoalan utama di dunia saat ini didefenisikan sebagai “kehilangan di tengah-tengah kelimpahan monumental (dari ketiadaan).
                        Implikasi lainnya bagi peradaban manusia adalah dalam terjadi pola hidup konsumerisme, individualisme, dan gaya hidup hedonis lainnya. Lalu, bagaimana kita menyikapinya? Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan maraknya mal-mal serta gerai-gerai makanan siap saji (KFC, McDonald, dll) kita akan terkesan mengkonsumsi sesuatu yang hampa karena semua dikerjakan dalam standar yang sama , tidaka ada keunikan/kekhasan apa yang kita konsumsi sehingga kita kehilangan substansi dari sebuah konsumsi. Tentunya ini sebuah realitas yang sulit dihindari, namun agar kita tidak terjebak pada pola yang dimaksud oleh George Ritzer adalah dengan terus mengembangkan interaksi sesama manusia. Interaksi atau lebih bagusnya lagi silaturahmi akan membuat kita tidak kehilangan “kemanusiaan kita”. Kalau setiap transaksi kita hanya diam menunggu mesin penghitung yang menghitung, menunggu masakan yang rasa asin atau pedasnya sudah pasti sama, maka saat itulah kita kehilangan sisi kemanusiaannya, kita akan sama dengan mesin penghitung di mal-mal dan bahkan kita tunduk pada mesin-mesin tersebut.   
Sumber Bacaan
Fajar Kurnianto. 2011. Negara dan Globalisasi Ekonomi. http:// fajar83kurnianto.blogspot.com.
Harwan AK. 2011. Mengkonsumsi Kehampaan: George Titzer dan Sponge Bob Squarepant. http://weliveby.blogspot.com. 
Patta Hindi. 2011. Menuju Masyarakat Konsumsi. http://lifestyle.kompasiana.com.

No comments: