My Blog List

Sunday, November 23, 2014

MODEL LAYANAN PENDIDIKANANAK TUNALARAS, ANAK BERKESULITAN BELAJAR KHUSUS DAN ANAK BERBAKAT

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN ANAK TUNALARAS,
ANAK BERKESULITAN BELAJAR KHUSUS DAN ANAK BERBAKAT
 
A.  Layanan Pendidikan Anak Tunalaras
1.      Bentuk atau model layanan dan teknik pendekatan
Sehubungan dengan model yang digunakan dalam memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan jenis-jenis model pendekatan sebagai berikut :
a.       Model biogenetik
Model ini dipilih berdasarkan asumsi bahwa gangguan perilaku disebabkan oleh kecacatan geniti atau biokimiawi sehingga penyembuhannya ditekankan pada pengobatan, diet, olahraga, operasi, atau mengubah lingkungan.
b.      Model behavioral (tingkah laku)
Model ini mempunyai asumsi bahwa gangguan emosi merupakan indikasi ketidakmampuan menyesuaikan diri yang terbentuk, bertahan, dan mungkin berkembang karena berinteraksi dengan lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah. Oleh karena itu, penanganannya tidak hanya ditujukan kepada anak, tetapi pada lingkungan tempat anak belajar dan tinggal.
c.       Model psikodinamika
Model ini berpandangan bahwa perilaku yang menyimpang atau gangguan emosi disebabkan oleh gangguan atau hambatan yang terjadi dalam proses perkembangan kepribadian. Oleh karena itu, untuk mengatasi gangguan perilaku itu dapat diadakan pengajaran psikoedukasional, yaitu menggabungkan usaha membantu anak dalam mengekspresikan dan mengendalikan perasaannya.
d.      Model ekologis
Model ini menganggap bahwa kehidupan ini terjadi karena adanya interaksi antar individu dengan lingkungannya. Gangguan perilaku terjadi karena adanya disfungsi antara anak dengan lingkungannya. Oleh karena itu, model ini menghendaki dalam memperbaiki problem perilaku agar mengupayakan interaksi yang baik antara anak tentang lingkungannya.
Beberapa teknik pendekatan yang digunakan dalam mengatasi masalah perilaku, diantaranya adalah :
a)    Perawatan dengan obat
Kavale dan Nye (1984) mengemukakan bahwa obat-obatan dapat mengurangi atau menghilangkan gangguan perilaku.
b)   Modifikasi perilaku
Ada beberapa langkah dalam melaksanakan modifikasi perilaku, yaitu :
1)      Menjelaskan perilaku yang akan diubah;
2)      Menyediakan bahan yang mengharuskan anak duduk diam;
3)      Mengatakan perilaku yang diterima.
c)    Strategi psikodinamika
Tujuan utama pendekatan psikodinamika adalah membantu anak menjadi sadar akan kebutuhannya, keinginan, dan kekuatannya sendiri.
d)   Strategi ekologi
Pendukung teknik, mengasumsikan bahwa dengan diciptakannya lingkungan yang baik maka perilaku anak akan baik pula.
  1. Tempat layanan
a.    Tempat khusus
Tempat dikenal dengan Sekolah Luar Biasa Anak Tunalaras (SLB-E). Sama halnya dengan sekolah luar biasa yang lain SLB-E memiliki kurikulum dan struktur pelaksanaannya yang disesuaikan dengan keadaan anak tunalaras.
b.   Tempat integrasi (terpadu)
Dari banyak jenis anak tunalaras, ada 3 jenis yaitu hyperactive, distraktibilitas, dan impulsitas yang kemungkinan banyak dijumpai di sekolah biasa, dimana mereka belajar bersama-sama dengan anak normal. Oleh karena itu, pada uraian berikut akan dikemukakan hal-hal yang berkaitan dengan dengan layanan anak-anak tersebut.
1)        Hiperaktif
Ciri-ciri anak hiperaktif adalah sebagai berikut.
·      Gerakannya terlalu aktif, tidak bertujuan, tak mau diam sepanjang hari, bahkan waktu tidur ada yang melakukan gerak di luar kesadaran;
·      Suka mengacau teman-teman sebayanya, dalam bertindak hanya menurutkan kata hatinya sendiri, dan mudah tersinggung;
·      Sulit memperhatikan dengan baik.
Beberapa cara/teknik dalam mengadakan layanan untuk anak hiperaktif ini antara lain:
a.    Medikasi
Medikasi yang sering dipakai adalah penggunaan obat-obat perangsang saraf terutama yang ada kaitannya dengan penenangan.
b.   Diet
Diet yang dianjurkan adalah pantangan berbagai macam makanan, termasuk makanan yang mengandung zat pewarna atau penyedap rasa tiruan yang dapat menyebabkan hiperaktif.
c.    Modifikasi tingkah laku
Perilaku juga akan dapat diubah dan dikendalikan dengan mengatur pola interaksi antara individu dengan lingkungannya.
d.    Lingkungan yang terstruktur
Pada dasarnya pendekatan ini menekankan pengaturan lingkungan belajar anak sehingga tidak menjadi penyebab munculnya perilaku hiperaktif.
e.    Modeling
Sistem meniru dapat dipakai untuk mengurangi perilaku hiperaktif. Prosedur yang dipakai adalah dengan menyuruh anak normal di kelas untuk member contoh perilaku yang baik.
f.    Biofeedback
Biofeedback merupakan teknik pengendalian perilaku atau proses biologis internal dengan cara memberi informasi kepada anak mengenai kondisi perilaku dan tubuhnya.
2)        Distraktibilitas
Distraktibilitas merupakan gangguan dalam perhatian pada stimulus yang relevan secara efisien. Ada 3 distraktibilitas, yaitu :
a.    Short attention span dan frequent attention shifts
b.    Underselection attention
c.    Overselective attention
Ada beberapa cara yang digunakan dalam memberi layanan kepada anak-anak tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut.
1.   Lingkungan yang terstruktur dan stimulus yang terkendali.
2.   Modifikasi materi dan strategi pembelajaran
3.   Modifikasi tingkah laku.
3)        Impulsivitas
Seseorang dikatakan impulsif jika cenderung mengikuti kemauan hatinya dan terbiasa bereaksi cepat tanpa berpikir panjang dalam situasi sosial maupun tugas-tugas akademik.
Adapun beberapa metode untuk mengendalikan impulsif, diantaranya :
a.    Melatih verbalisasi aktivitasnya untuk menendalikan perilakunya;
b.   Modifikasi tingkah laku;
c.    Mengajarkan seperangkat keterampilan kepada anak, antara lain keterampilan memusatkan perhatian, menghindari gangguan/stimulasi pengganggu, mengembangkan keterampilan mengingat, menghargai perasaan;
d.   Mendiskusikan perilaku anak antara guru dengan anak itu sendiri untuk memperoleh pemahaman akan masalah perilaku anak itu;
e.    Wawancara dengan anak segera setelah perilaku terjadi untuk melihat apa yang telah terjadi, mengapa terjadi, dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya masalah.
  1. Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras
Fasilitas pendidikan untuk anak tunalaras relatif sama dengan fasilitas pendidikan untuk anak normal pada umumnya. Fasilitas ruangan kelas tidak menggunakan benda-benda kecil yang terbuat dari bahan yang keras, sehingga mempermudah mereka untuk mengambil dan melemparnya. Fasilitas lain lebih berkaitan dengan ruangan terapi dan sarana terapi. Terapi tesebut meliputi :
·      Ruangan fisioterapi dan peralatannya, yaitu peralatan yang lebih diarahkan pada upaya peregangan otot dan sendi, dan pembentukan otot, misalnya: barbel, box tinju, dan sebagainya.
·      Ruangan terapi bermain dan peralatannya, yaitu peralatan yang lebih diarahkan pada model terapi sublimasi dan latihan pengendalian diri. Misalnya puzzle dan boneka .
·      Ruangan terapi okupsi dan peralatannya, yaitu peralatan yang lebih diarahkan pada pembentukan keterampilan kerja dan pengisian pengisian waktu luang sesuai dengan kondisi anak.
B.  Layanan Pendidikan Anak Berkesulitan Belajar Khusus
1.      Bentuk atau model layanan
Menurut Jerome Rosner (1993) dikutip dalam Suparno ada tiga macam layanan pendidikan bagi anak berkesulitan belajar khusus, yaitu :
a.       Layanan Remidiasi
Layanan remidiasi terfokus pada upaya menyembuhkan, mengurangi, bahkan kalau mungkin mengatasi kesulitan yang dialami anak. Dalam layanan ini anak dibantu dalam keterampilan perseptual dan kecakapan dasar berbahasa, sehingga ia mampu memperoleh kemajuan belajar yang normal. Dalam layanan remidiasi ini sering digunakan beberapa teknik dalam modifikasi perilaku, diantaranya dengan pemberian penguatan, atau teknik lain yang sesuai dengan kebutuhan anak.
b.      Layanan Kompensasi
Layanan kompensasi diberikan dengan cara menciptakan lingkungan belajar khusus di luar lingkungan belajar yang normal, sehingga memungkinakan anak memperoleh kemajuan dalam pembentukan perceptual dan bahasa. Dalam melaksanakan layanan kompensasi, Kartadinata dkk (1998/1999) memberikan patokan atau rambu-rambu sebagai berikut :
§  Pahami dan pastikan anak memiliki pengetahuan factual yang diperlukan dalam mempelajaru bahan ajar;
§  Batasi jumlah informasi baru pada hal-hal yang tercantum dalam bahan ajar, sampaikan sedikit demi sedikit;
§  Sajikan informasi dengan jelas tentang apa yang harus dipelajari oleh anak;
§  Nyatakan secara eksplisit bahwa informasi yang diajarkan berkaitan dengan informasi yang telah dimiliki anak dan sedapat mungkin menggunakan contoh (konkret).
§  Jika anak sudah mampu menguasai unit-unit kecil perkenalkan dia ke unit-unit yang lebih besar;
§  Siapkan pengalaman ulang anak untuk memperkuat informasi baru dalam ingatan anak;
§  Lakukan drill, latihan efektif dengan melibatkan seluruh indra untuk membuat persepsi yang sempurna, yaitu dengan jalan mendengar, membaca, menulis, dan berbuat.
c.       Layanan Prevensi
Layanan prevensi adalah layanan yang diberikan sebelum anak mengalami ketunacakapan belajar di sekolah. Layanan ini diawali dengan melakukan identifikasi terhadap aspek-aspek yang dimungkinkan menyebabkan ketunacakapan belajar. Langkah yang dilakukan dalam layanan ini diawali dengan memberikan tes kemampuan dasar anak dalam membaca, menulis, berhitung, dan melakukan koordinasi gerak. Langkah selanjutnya dilakukan dengan mengadakan pemeriksaan terhadap aspek-aspek pribadi anak, diantaranya pemeriksaan kesehatan, perkembangan, penglihatan dan pendengaran, keterampilan dan perseptual.
2.      Fasilitas Pendidikan Untuk Anak Berkesulitan belajar Khusus
Fasilitas yang diperlukan untuk anak berkesulitan belajar khusus diantaranya adalah tersedianya perpustakaan yang dilengkapi dengan berbagai koleksi buku yang dapat membantu anak untuk mengatasi kesulitan belajarnya, tersedianya berbagai media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak, tersedianya ruang laboratorium, tenaga pengajar, dan sebagainya.
C.  Layanan Pendidikan Anak Berbakat
1.      Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak berbakat sangat mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan strategi pembelajaran adalah sebagai berikut.
a.    Pembelajaran anak berbakat harus diwarnai dengan kecepatan dan kompleksitas yang lebih sesuai dengan kemampuannya yang lebih tinggi dari anak normal.
b.    Pembelajaran pada anak berbakat tidak saja mengembangkan kecerdasan intelektual semata, tatapi pengembangan kecerdasan emosional juga patut mendapat perhatian.
c.    Pembelajaran anak berbakat berorientasi pada modifikasi proses, isi, dan produk. Sehubungan dengan itu, M. Soleh YAI (1996) mengemukakan tiga jenis modifikasi sebagai berikut.
·      Modifikasi proses adalah metodologi atau cara guru mengajar termasuk cara mempresentasikan isi materi kepada siswa yang berorientasi kepada berpikir tingkat tinggi, banyak pilihan, mengupayakan penemuan, dan sebagainya.
·      Modifikasi isi adalah modifikasi dalam materi pembelajaran baik berupa ide, konsep, maupun fakta.
·      Modifikasi produk atau hasil adalah produk kurikulum yang tidak dapat dipisahkan dari isi materi dan proses pembelajaran yang dikembangkan dan merupakan hasil dari proses yang dievaluasi untuk menentukan efektivitas satu program.
2.      Bentuk atau model layanan
Model-model layanan yang dimaksud disini adalah model yang mengarah pada perkembangan anak berbakat diantaranya layanan perkembangan kognitif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus. Berikut akan dikemukakan apa dan bagaimana implementasi dari model-model itu (adaptasi dari Conny Semiawan, 1995) :
a.       Model layanan kognitif-afektif
Sasaran akhir dari model ini adalah pengembanagn bakat. Metode atau cara dalam melaksanakan model tersebut, yaitu dengan cara pemberian stimulus langsung pada belahan otak kanan, dan metode tak langsung dengan menghayati pengalaman belajar atau percakakapan tertentu secara mendalam.
b.      Model layanan perkembangan moral
Sasaran model ini adalah tercapainya kemandirian moral atau tanggung jawab moral yang diperoleh melalui sosialisasi dan individualisasi dalam kaitan manusia sebagai makhluk individu dan sosial. Usaha mengimplementasikan model ini adalah sekolah harus menciptakan suasana dengan mengacu pada kemampuan berpikir, yang dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip dan kepedulian terhadap yang lain.
c.       Model perkembangan nilai
Model ini memperhatikan peranan kehidupan afektif (emosional) sehari-hari seperti rasa senang, sedih, takut, bangga, malu, rasa bersalah, dan bosan. Perasaan-perasaan ini membentuk sikap seseorang dan sebaliknya perkembangan nilai erat hubungannya dengan perkembangan sikap dan merupakan kerangka pembentukan moral seseorang.
d.      Layanan berbagai bidang khusus
Bidang-bidang khusus ini adalah kepemimpinan, seni rupa dan seni pertunjukan
Menurut Kartadinata dikutip dalam Suparno (2010 : 5.17), layanan pendidikan bagi anak berbakat di SD dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap penjaringan dan tahap seleksi. Setelah teridentifikasi keberbakatan anak, langkah selanjutnya adalah menentukan layanan pendidikan bagi mereka. Ada berbagai macam layanan bagi anak berbakat, yaitu :
1)   Layanan akselerasi, yaitu layanan tambahan untuk mempercepat penguasaan kompetensi dalam merealisasikan bakat anak.
2)   Layanan kelas khusus, yaitu anak yang berbakat unggul dikelompokkan dalam satu kelas dan diberikan layanan tersendiri sesuai dengan bakat mereka.
3)   Layanan kelas unggulan, sama dengan layanan kelas khusus hanya saja berbeda dalam model pengayaannya.
4)   Layanan bimbingan sosial dan kepribadian
3.      Fasilitas pendidikan untuk anak berbakat
Fasilitas untuk anak berbakat tidak hanya terbatas pada kelas dan segala alat pendukungnya, namun juga fasilitas atau sarana keberbakatan itu sendiri, seperti ruangan sumber belajar beserta alat-alatnya, sanggar, aula, komputer, alat musik, alat seni lainnya dan tenaga pengajar.
DAFTAR PUSTAKA
Suparno (dkk). Tanpa tahun. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Banjarmasin : Pendidikan Jarak Jauh Kerjasama Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan dengan FKIP Universitas Lambung Mangkurat.
IGAK, Wardani (dkk). 2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta : Universitas Terbuka.

No comments: